Drama Proklamasi

Hai Calon Penurus Bangsa..
Kalian pasti tau kan dengan PROKLAMASI?? Ya ini moment yang paling utama/penting bagi berdirinya bangsa Indonesia tercinta ini. Di dalam sejarah pasti kalian akan mempelajari PROKLAMASI, mulai dari awal Jepang kalah, Peristiwa Rengas Dengklok, hingga pembacaan teks Proklamasi.

Dibawah ini saya bakal memberi contoh drama detik" PROKLAMASI.

NASKAH DRAMA
DETIK-DETIK PROKLAMASI
Sejarah



Dibuat oleh :
Kelompok 3
Dhita Meyliana (XI MIA 5/06)
Muhammad Agung C. S. (XI MIA 5/16)
Niken Utami T (XI MIA 5/19)
Valdista Biani (XI MIA 5/23)



Detik-detik Proklamasi

Saat itu, tanggal 17 Agustus 1945 dinihari, sekitar pukul 04.00, naskah proklamasi selesai diketik oleh Sayuti Melik atas perintah dari Soekarno. Semua orang menuju ruang besar di bagian depan rumah. Soekarno mulai membuka pertemuan dengan membacakan rumusan teks proklamasi.
Soekarno         :“Keadaan yang mendesak telah memaksa kita semua mempercepat pelaksanaan proklamasi kemerdekaan. Rancangan teks telah siap dibacakan di hadapan saudara-saudara dan saya harapkan benar bahwa saudara-saudara sekalian dapat menyetujuinya sehingga kita dapat berjalan terus dan menyelesaikan pekerjaan kita sebelum fajar menyingsing.”
Soekarno         :“Bagaimana jika kita tanda tangani naskah proklamasi bersama selaku wakil-wakil bangsa Indonesia?”
Hatta               :”Saya setuju, karena Declaration of Independence Amerika Serikat juga seperti itu.”
            Usul itu ditentang oleh pihak pemuda. Mereka tidak setuju jika golongan tua yang disebutnya “budak-budak Jepang” turut menandatangani naskah proklamasi.
Sukarni            :”Menurut saya, naskah proklamasi itu cukup ditandatangani dua orang saja yakni Bung Karno dan Bung Hatta atas nama bangsa Indonesia.”
Hadirin            :”Ya, setuju.”
Naskah yang sudah diketik oleh Sayuti Melik segera ditandatangani oleh Soekarno dan Mohammad Hatta. Kini timbul persoalan bagaimana proklamasi harus diumumkan kepada seluruh rakyat Indonesia dan seluruh pelosok dunia.
Hatta               :”Bagaimana kita akan mengumumkan naskah proklamasinya?”
Sukarni            :”Saya telah memerintahkan rakyat Jakarta dan sekitar untuk datang ke Lapangan IKADA  pada tanggal 17 Agustus untuk mendengarkan proklamasi.”
Proklamasi akan dilaksanakan di Lapangan IKADA, namun beberapa saat kemudian datanglah seorang pemuda ke kediaman soekarno.
Sudiro             :”Selamat pagi Pak” seorang pemuda berteriak dengan berlari tergesa- gesa.
Muwardi         :”Ya gimana pemuda? Mengapa dikau tergesa-gesa”
Sudiro             :”Lebih baik pembacaan teks proklamasi jangan dilakukan di Lapangan IKADA. Karena saya barusan kesana bersama para pemuda untuk melihat proklamasi, dan disitu banyak tentara Jepang dengan persenjataan lengkap.. Saya takut pembacaan proklamasi akan terganggu.”
Muwardi         :”Benarkah? Jika memang begitu kita pindah saja acara yang sangat penting ini agar berjalan dengan lancar.”
Muwardi segera memberitahukan hal ini kepada Soekarno. Soekarnopun langsung menemui para tokoh-tokoh untuk membicaran hal tersebut.
Soekarno         :”Hai saudara, saya mendapat kabar bahwa di Lapangan IKADA ada banyak prajurit Jepang dengan persenjataan lengkap. Saya takut itu akan menghalangi proklamasi. Suatu rapat umum tanpa diatur sebelumnya dengan penguasa-penguasa militer, mungkin akan menimbulkan salah paham. Suatu bentrokan kekerasan antara rakyat dan penguasa militer yang akan membubarkan rapat umum tersebut, mungkin akan terjadi.Saya takut akan terjadi pertumapahan darah diantara kita. Untuk itu lebih baik proklamasi dilakukan di tempat kediaman saya di Pegangsaan Timur. Pekarangan di depan rumah cukup luas.. Karena itu, saya minta saudara sekalian untuk hadir di Pegangsaan Timur 56 sekitar pukul 10.00 pagi.”
Hatta               :”Baiklah, akan saya perintahkan para pekerja pers dan kantor-kantor berita untuk memperbanyak naskah proklamasi dan menyebarkannya ke seluruh dunia.”
            Pukul 05.00 pagi, para tokoh keluar dari rumah Laksamana Maeda dan menuju rumah Soekarno. Sampai di rumah Soekarno, mereka segera mempersiapkan proklamasi kemerdekaan.
Soewirjo          :”Mr. Wilopo tolong siapkan mikrofon juga beberapa pengeras suara.”
Mr. Wilopo     :”Baik, akan saya siapkan.”
Sudiro             :”Hud, jangan lupa siapkan satu tiang bendera.”
S. Suhud         :”Siap Pak!”
            S. Suhud pun mempersiapkan bambu untuk dijadikan tiang bendera. (membersihkan bambu dan memberi tali)
S. Suhud         :”Alhamdulillah selesai.”
S. Suhud         :”Lho! O iya aku lupa, kan udah ada tiang besi, ngapain aku bikin lagi. Hahaha ya sudahlah.”
Rakyat telah berkumpul di kediaman Soekarno. Rumah yang terletak di Jl. Pegangsaan Timur No. 56 itu pun telah dipadati oleh sejumlah pemuda dan rakyat yang berbaris teratur.
Pemuda 1        :”Mengapa kau tampak gelisah? Sebentar lagi proklamasi kemerdekaan akan dikumandangkan, apa lagi yang harus dikhawatirkan?”
Pemuda 2        :”Apa kau tak memikirkan, bagaimana jika tiba-tiba Jepang datang dan mengacaukan semua ini, kita tentu tak akan mendapat kemerdekaan.”
Pemuda 1        :”Kita serahkan saja semua ini pada Yang Kuasa, semoga Ia senantiasa melindungi kita semua.”
Matahari bergerak semakin tinggi, namun proklamasi belum juga dibacakan. Para undangan telah berdatangan, rakyat yang telah menunggu sejak pagi pun mulai tidak sabar. Para pemuda mulai mendesak Bung Karno untuk segera membacakan teks proklamasi.
Pemuda 3        :”Apa yang kau tunggu? Teks proklamasi harus segera dibacakan, sebelum Jepang datang dan mengacaukan semuanya.”
Soekarno         :”Saya tidak akan membacakan proklamasi sebelum Hatta datang.”
Pemuda 3        :”Apakah kau tidak melihat wajah-wajah penuh was-was itu? Mereka jelas-jelas sangat gelisah dan khawatir jika Jepang tiba-tiba datang dan menggagalkan semua ini.”
Soekarno         :”Baiklah, 10 menit lagi akan saya bacakan proklamasi.”
Lima menit sebelum acara dimulai, Moh. Hatta datang dengan mengenakan pakaian putih-putih. Soekarno yang juga mengenakan pakaian putih-putih segera menyambut kedatangan Moh. Hatta.
Moh. Hatta      :”Maafkan saya yang telah membuat anda menunggu.”
Soekarno         :”Sudah, tidak apa-apa. Lebih baik kita bersegera menuju tempat upacara.”
Keduanya segera menuju tempat upacara. Latief Hendraningrat , salah seorang anggota PETA segera memberi aba-aba kepada hadirin.
Latief H.          :”Pimipinan saya ambil alih, siap grak!”
Serentak hadirin berdiri tegak dengan sikap sempurna. Latief kemudian mempersilakan Soekarno dan Hatta maju beberapa langkah mendekati mikrofon.
Soekarno         :”Sebelum saya bacakan proklamasi kemerdekaan, izinkanlah saya untuk menyampaikan pidato singkat kepada saudara-saudara sekalian.
Soekarno         :"Saudara-saudara sekalian ! saya telah minta saudara hadir di sini, untuk menyaksikan suatu peristiwa maha penting dalam sejarah kita. Berpuluh-puluh tahun kita bangsa Indonesia  telah berjuang untuk kemerdekaan tanah air kita. Bahkan telah beratus-ratus tahun. Gelombangnya aksi kita untuk mencapai kemerdekaan kita itu ada naiknya ada turunnya. Tetapi jiwa  kita tetap menuju ke arah cita-cita. Juga di dalam jaman Jepang, usaha kita untuk mencapai kemerdekaan nasional tidak berhenti. Di dalam jaman  Jepang ini tampaknya saja kita menyandarkan diri kepada  mereka. Tetapi pada hakekatnya, tetap kita menyusun tenaga kita sendiri. Tetap kita percaya pada kekuatan sendiri. Sekarang tibalah saatnya kita benar-benar mengambil  nasib bangsa dan nasib tanah air  kita  di dalam tangan kita sendiri. Hanya bangsa yang  berani mengambil nasib dalam tangan  sendiri, akan dapat berdiri dengan kuatnya. Maka kami, tadi malam telah mengadakan musyawarah dengan pemuka-pemuka rakyat Indonesia dari seluruh Indonesia , permusyawaratan itu seia-sekata  berpendapat,  bahwa sekaranglah  datang saatnya untuk menyatakan kemerdekaan kita.
Saudara-saudara! Dengan ini kami menyatakan kebulatan  tekad itu. Dengarkanlah Proklamasi kami:
PROKLAMASI
Kami  bangsa Indonesia dengan ini menyatakan Kemerdekaan Indonesia . Hal-hal  yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain, diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Jakarta , 17 Agustus 1945. Atas nama bangsa Indonesia Soekarno/Hatta.
Demikianlah saudara-saudara! Kita sekarang telah merdeka. Tidak ada satu ikatan lagi  yang mengikat tanah air kita dan  bangsa  kita! Mulai saat  ini kita menyusun  Negara  kita!  Negara Merdeka.  Negara Republik Indonesia  merdeka, kekal, dan abadi. Insya Allah, Tuhan memberkati kemerdekaan kita itu"
Proklamasi telah dibacakan, terdengar suara tepuk tangan dari para hadirin. Mereka terlihat sangat bahagia, karena kemerdekaan telah mereka dapatkan. Acara kemudian dilanjutkan dengan pengibaran bendera Merah Putih.
Acara dilanjutkan dengan pengibaran bendera Merah Putih. Soekarno dan Hatta maju beberapa langkah menuruni anak tangga terakhir. Lalu, Hatta meminta S. K. Trimurti untuk mengibarkan bendera.
Hatta               :"Trimurti, kibarkanlah bendera kebanggan kita."
Trimurti           :"Maaf, bung. Tapi menurut saya lebih baik seorang prajurit saja yang mengibarkannya."
Kemudian, tanpa ada yang menyuruh, Latief Hendraningrat yang berseragam PETA berwarna hijau dekil maju ke dekat tiang bendera. S. Suhud mengambil bendera dari atas baki yang telah disediakan dan mengikatnya pada tali dibantu oleh Latief Hendraningrat. Bendera dinaikkan perlahan-lahan. Tanpa ada yang memimpin, para hadirin dengan spontan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Bendera dikerek dengan lambat sekali, untuk menyesuaikan dengan irama lagu Indonesia Raya yang cukup panjang.
Tak lama setelah upacara proklamasi dilaksanakan, segerombol pasukan pelopor yang dipimpin S.Brata datang dan memasuki halaman rumah Soekarno.
Lasmidjah H.  : "(lari menghadap Soekarno) Maaf bung, ada segerombol orang yang datang menuju kemari."
S. Brata           :"Hei bung Karno yang terhormat ! Kenapa kau tidak memberi tahu kami jika tempat pelaksanaan proklamasi dipindah ? Sebagai gantinya, kami minta pembacaan proklamasi ulang !"
Soekarno         :"Maaf bung, proklamasi itu hanya dibacakan satu kali dan berlaku untuk selamanya."
S. Brata           :"Tidak bisa begitu bung. Kami juga rakyat Indonesia. Kami pun berhak untuk mendengarkan pembacaan proklasmasi."
Soekarno tetap mempertahankan pendapatnya. Sebagai gantinya, ia memberikan wejangan-wejangan kepada S. Brata dan pasukannya. Walau sebenarnya tidak ikhlas, S. Brata beserta pasukannya tetap menerima dan memakluminya.
Tidak lama setelah itu, datang tiga orang pembesar Jepang. Sudiro sudah dapat menerka untuk apa mereka datang. Para anggota Barisan Pelopor mulai mengepungnya.
Orang Jepang  :"Tidak seharusnya kalian mengumandangkan proklamasi. Jepang masih berkuasa atas negara ini!”
Soekarno         :”Maaf, namun proklamasi sudah kami kumandangkan. Sekarang Indonesia sudah merdeka dan tidak lagi berada di bawah kekuasaan majikanmu!”
Para utusan Jepang pun kesal dan langsung beranjak dari kediaman Soekarno tanpa meninggalkan sepatah katapun.

Akhirnya, perjuangan rakyat Indonesia selama ini terbayarkan. Sekarang Indonesia sudah merdeka dan tidak lagi diperbudak oleh bangsa lain.


Sekian drama detik-detik Proklamasi ini, semoga bisa membantu. :)

Komentar